We would be happy to provide custom-made design to meet your corporate gift needs. Please contact our corporate gift advisor.



Trowulan, located some 12 kilometers south of Mojokerto regency in East Java, has long been known as a historical site.

The Hindu and Buddhist-influenced temples that dot the area are evidence of a rich cultural heritage, which also includes ceramic pieces, bronze and silver art and stone carvings.

But the few craftsmen still engaged in creating works of art with religious themes are diminishing, and the few still holding on to their profession are finding it harder to preserve the ancient art they inherited from their ancestors.

Bejijong, a hamlet in Trowulan subdistrict, is known as a center for bronze and silverware -- but looking for a craftsman's workshop in this sleepy little hamlet is like searching for a needle in a haystack.

Arif, a man hard to track down, is the owner of a workshop specializing in bronze, gold and silverware in the hamlet.

"Bronze smithing has become somewhat of a dying art in Bejijong," said Arif, who inherited a workshop from his late father, adding he had struggled to keep the business afloat.

Arif, who is a teacher by training, said he felt obliged to continue on with the craft; a cultural inheritance that originated from way down the family line.

Leading the way to a workshop at the back of his home surrounded by a spacious yard, he explained that before the economic crises of 1998, there were some 10 silversmiths in the area.

But with a decline in the demand for bronze and silver works of art, they had all closed down business: Arif's workshop is the last one standing.

Back in the days when his father was still running the business, the workshop employed some 20 craftsmen. But ongoing economic pressures forced the majority of craftsmen to look for work elsewhere.

For more than 25 years, Arif's workshop has produced Buddha heads, temple bells, miniature temples and figurines of Hindu gods. Art traders sell the handicrafts produced to tourists visiting the temples in Trowulan.

Despite the misfortunes encountered, Arif said he vows to try as hard as he can to keep the business going, as he believes preserving the art will have its rewards.

In order to survive, he accepts orders placed by tourist centers in Bali and Jakarta.

Recent orders are mostly for pieces of art with classical European appeal: A smith at his workshop demonstrates his skill at shaping and welding a model of a Trojan horse.

It is astonishing to watch the smith at work producing an artwork of such refined quality, which originated from a foreign culture. A Trojan horse can fetch some Rp 170,000 (US18) to Rp 200,000 a piece.

Aside from meeting orders from art dealers, Arif's workshop continually produces artwork with tradition appeal. He keeps a collection of various models, like an owl paper-weight, and deer, turtle and beetle figurines.

Current economic pressure, he said, is a major threat to the existence of silver and bronze smithing, which previously offered a decent livelihood to quite a number of craftsmen in Bejijong.

Similar concerns have been expressed by a number of stone carvers in the area, who have complained of excessive levies incurred when sending consignments of statues to Bali.

It is not hard to find the workplace of those engaged in stone carving -- one only needs to follow the tapping of hammer and chisel echoes along the main artery connecting Mojokerto to Jombang.

The rhythmic tapping sound guides the casual visitor to an empty plot of land where a group of craftsmen work under the shade of trees, giving shape to huge boulders using simple tools.

Their works of art, including ghost houses, Hindu and Buddhist statues as well as carvings for home decorations, lay scattered under the trees.

The craftsmen work together and seem to be able to coordinate their activities without too much conversation.

Despite a lack of formal education, the craftsmen's skills are able to meet the demand of orders from several tourist centers.

"Craftsmen in Bali have their hands full with the huge demand from tourists there, so some of the orders are placed with stone carvers in Trowulan," said one carver.

"We are also able to produce artwork with more modern themes, like home decorations with Hellenistic influences, statues for churches or crocodile statues like this one," he said, pointing to a model of a crocodile some 1.5 meters in length.

Most of Trowulan's stone carvings end up in Bali, where they are sold to buyers as far away as Australia, England and European countries.

Each of the eight craftsmen that work in Arif's workshop earn some Rp 500,000 to Rp 800,000 a month.

Though Arif is eager to give the workers a raise, the heavy levies at the harbor in Bali drains the workshop's income.

"It's a pity the government does not appreciate our self-employment efforts," he said. "Especially since economic woes still threaten our existence." Retno K. Djojo

 

Source: The Jakarta Post
2008-04-22


Radio ini dapat menerima sinyal AM dan FM. Dapat dioperasikan hanya dengan 4 buah baterai A3. Radio ini juga disertai dengan Handle (pegangan) sehingga memudahkan dibawa kemana-mana.

Dengan menggunakan konsep “Dengan sedikit bahan kayu, banyak pekerjaan” sang perancang menggunakan kayu asli Indonesia dan produk tsb di produksi secara local. Dengan demikian dapat mendatangkan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Inilah radio kayu Magno yang dirancang hati-hati oleh Singgih S. Kartono secara manual, dan kesimbangan yang pas.

Sepintas terlihat seperti bentuk kotak biasa, namun panel depan dan belakangnya dibentuk dengan bentuk lengkung sehingga terkesan bentuk organik.

Namun, bagian dalamnya berfungsi sebagaimana radio normal. Radio ini dapat menerima sinyal AM dan FM dan telah dioptimalkan untuk dapat digunakan di Jepang. Dengan chanel FM, dapat menerima saluran TV analog dari chanel 1 sampai 3.

Untuk batang antena saluran FM, dapat di panjangkan dalam 4 bagian. Dengan menggunakan baterai A3 sebanyak 4 buah, radio ini sudah bisa dinikmati. Penggunaan baterai electric charger pun bisa digunakan.

Ada 3 tombol (dial) yang dapat dioperasikan. Tombol untuk tunning terdapat dibagian atas panel depan. Dibagian bawahnya terdapat tombol on-off dan juga tombol pengeras suara. Dengan memikirkan tentang keseimbangan bagian depan radio ini, kedua buah tombol ini dibuat dengan ukuran yang berbeda.

Dibagian belakang terdapat tombol pengatur saluran AM dan FM. Kemudian, dibawahnya terdapat tempat baterai. Untuk membuka dan menutup tempat baterai ini, digunakan lingkaran yang terbuat dari karet dan batang kayu ebony yang dapat diputar dengan tangan. Keterangan tentang produk ini tertulis dibalik cover baterai. Bagian-bagian kecilpun dipikirkan dengan sangat baik.

Radio ini, dan juga disain dari prosuk Magno, menggunakan konsep “simple”. Hal ini dapat terlihat dari tampilan luarnya dan juga material yang digunakannya. Contohnya adalah radio ini tidak memiliki penunjuk saluran frekuensi yang biasa terdapat di radio-radio biasa.

Jika pengguna radio ini mencoba mencari saluran radio kesayangannya, sedikit sulit untuk mendapatkannya. Selanjutnya bila ingin mengganti saluranpun, karena penunjuk frekeunsinya tidak ada, maka pengguna hanya bisa menggunakan perasaannya saja ketika memutar tombol tunning radio ini. Hal ini akan membuat penasaran dari si pengguna. Ini adalah salah satu hasil pikiran dari sang perancang.

Di Amerika, Seattle NPO International Design Resource Institute mengadakan kompetisi disain dengan tajuk “ Design with memory”. Pada kompetisi yang diadakan pada tahun 1997, dari seluruh peserta yang diseleksi dari berbagai negara, yang mendapat penghargaan adalah “Radio Kayu” ini.

6 tahun setelah itu, pada tahun 2003, sang perancang mendirikan perusahaannya sendiri. Rumahnya sendiri dijadikan sebagai tempat bekerja. Dengan mempekerjakan masyarakat sekitar, menggunakan kayu Indonesia, proses pembuatan produk inipun dimulai. Inilah awal mulanya brand Magno. Setelah perlahan-lahan menyiapkan produk ini, akhirnya pada bulan Desember 2006, produk ini dapat dinikmati oleh kalian semua (orang Jepang). Dapat disimpulkan bahwa yang menjadi cikal bakal brand Magno ini adalah ”Radio Kayu” ini.

Kemasan produk ini terdiri dari, 2 buah panel kayu balsa didirikan pada kedua sisinya, kemudian dibungkus dengan kertas kardus dan diikat dengan karet. Ketika produk ini dikirim, tidak ditemukan adanya kerusakan didalamnya, walaupun menggunakan material yang “seadanya” dan tetap cantik dilihat. Atas dasar itulah kemasan ini dirancang. Kerena kemasan ini dirancang dengan sangat hati-hati, maka amat sayang apabila kardus dari produk ini dibuang begitu saja.

Produk “Radio Kayu” ini berbeda dengan produk lain yang terbuat dari plastik. Diperlukan perhatian khusus apabila ingin menggunakannya secara terus menerus. Untuk menghindari permukaan radio dari debu, maka permukaan kayu radio ini dilapis dengan minyak. Biasanya hanya diperlukan kain lembut untuk memberihkannya dan biarkan mengering. Harus dilakukan secara perlahan.

Sesekali, permukaan radio ini perlu diolesi dengan teak oil atau sejenisnya dan dilap dengan kain yang lembut. Jika dirawat dengan baik dan hati-hati, “Radio Kayu” ini bisa lebih bercahaya lama kelamaan.

Untuk mengisi keseharian anda atau sebagai bingkisan kepada orang yang penting buat anda, “Radio Kayu” dari Magno ini dapat membuat keseharian anda menjadi lebih baik.

Wawancara dengan Singgih S.Kartono

Tolong ceritakan penyebab kenapa membuat produk ini

Ketika saya masih menuntut ilmu di ITB, saya mempelajari bidang Disain Produk. Tema untuk skripsi (Tugas akhir) saya adalah “ disain radio reciever dengan menggunakan teknologi handy craft Indonesia”. Setelah lulus, saya menjadi perancang dibidang handy craft dan pada tahun 2003 sampai sekarang sibuk di perusahaan saya sendiri.

Seri produk Magno ini awalnya adalah berupa kumpulan dari pecahan ide-ide disain produk. Salah satu dari ide itu adalah radio kayu tersebut. Setelah itu, setelah berkembangnya seri-seri produk tsb, saya harus memperbaiki konsep saya sekali lagi menjadi “ kerajinan kayu yang berfungsi simple”.

Tema yang saya ambil adalah hubungan antara produk dengan pengguna. Bukan hubungan seperti master and servant. Produk-produk ini merupakan bagian dari hidup kita.

Bisa diceritakan hal-hal yang menjadi perhatian pada tahap akhir disain atau bentuk dari produk tsb.

Buat saya, saya tidak melakukan proses yang mengharapkan konsep detail yang sempurna sejak tahap awal merancang. Menurut saya hal itu akan membuat hilang perasaan dan energi kita sendiri.

Ada kalanya memasuki tahap merancang dengan sedikit informasi tentang apa yang ingin di buat. Menurut saya, merancang itu seperti perjalanan bertualang tanpa membawa peta. Saya menikmati proses itu dengan memikirkan kata perjalanan dibenak saya.

Juga ada kalanya ketika tujuan yang ingin digapai sudah sangat jelas, namun pada kahirnya berbeda dengan harapan semula. Keduanya merupakan proses yang saya yakin ada makna besar yang terkandung didalamnya.

Tidak ada proses disain yang dimulai dari hasil survey pasar atau hasil permintaan pasar. Saya hanya mengambil ilham dari kebiasaan dari kehidupan orang-orang sekitar. Hal yang jauh, hal yang dekat, hal yang terjadi disekitar atau hal yang terjadi di bumi ini. Kemudian, hal apa yang terbaik yang bisa digunakan oleh orang-orang sekitar kita.

Untuk produk yang telah jadi, tidak lebih dari 1 output yang lahir dari sebuh proses. Sebatas mata ini memandang produk inisecara 3 dimensi, selain itu saya ingin mengatakan kepada pengguna sekalian bahwa ada hal yang lebih penting. Yaitu ide dari produk tsn dan juga pesan dan jiwa yang terkandung didalamnya.

Walaupun menjadi perulangan, namun saya berpendapat bahwa produk tsb merupakan sebuah benda berjiwa tersendiri. Kami berperan untuk menyampaikan pesan dan jiwa yang terkandung didalamnya. Namun didalam masyarakat sekarang ini, hal-hal tersebut suka diabaikan oleh pengguna dan menganggap produk tsb hanya sebagai “robot yang habis dipakai dibuang”. Amat sangat disayangkan.

Apakah ada semacam episode tentang material yang digunakan oleh produk tsb?

Material yang digunakan sebagain besar dari kayu. Material kayu memiliki arti ’”kesempurnaan” didalamnya. Segi kekuatan kayu dan juga segi kelemahan kayu keduanya dapat digunakan secara bersamaan. Karena itulah material tersebut bisa disebut material sempurna.

Menurut saya, material yang sempurna itu terletak pada keseimbangan yang dapat diberikannya. Material tersebut mengajarkan kepada kita akan adanya sebuah “batas”. Dizaman modern sekarang, dapat dibilang kita sering melupakan batas-batas tersebut. Kita sendiri tidak tahu dimana kita harus menghentikannya. Hasilnya adalah kondisi yang tidak seimbang yang menjadi lampu merah buat kita semua.

Salah satu jenis kayu hitam yang bernama Sonokering, baru dapat digunakan sebagai material setelah berumur 50 tahun. Kepada para pengguna, bukan karena kayu tersebut eksotis dan berharga mahal, namun karena didalamnya terdapat jarak waktu yang panjang yang dapat dijadikan simbol bagi manusia.

Saya memilih untuk membuat produk kecil dengan ditail yang sempurna setelah saya memikirkan baik-baik tentang jangka waktu yang lama yang dibutuhkan oleh kayu sonokering. Kami ingin mencoba menyelesaikan masalah tersebut dengan semangat yang ada dalam kerja kami. Tingkat kegagalan dalam bidang pertanian di Indonesia ini cukup tinggi. Konsep “Kerajinan kayu kecil yang bermanfaat” berusaha mencoba untuk seefektif mungkin menggunakan sumber daya kayu serta memberikan tenaga kerja bagi masyarakat.

Kita memiliki sumber daya kayu, sehingga kita harus menggunakannya secara bijaksana.

Ada pesan untuk pelanggan AssistOn?

Cobalah “berkomunikasi” dengan produk-produk yang kita beli. Setelah itu, berilah mereka “tempat” didalam kehidungan kita. Khususnya letakan mereka didalam hati kita semua.

Jangan menganggap produk itu seperti “robot yang habis dipakai bisa dibuang”. Yang bisa dibeli adalah bentuk fisik luarnya saja, namun pesan dan jiwa dari kami (perancang) terkandung didalamnya dan cobalah untuk mengerti akan hal tersebut.

Spesifikasi “Radio Kayu” Magno

Ukuran

Panjang 18 cm, Lebar 8,5 cm , Tinggi 10,2 cm

Berat

820 gram (tanpa baterai)

Material

Kayu Hitam Jaya, Agachisu (dilapis minyak)

Supported Products

AM dan FM (Chanel TV 1-3 bisa diterima)

2008-04-16


The rain forests supplies us woods and papers, and it is utopia for many species of animals and plants. And, what’s more, it held an important place for global warming by absorbing Carbon dioxide. And then, it defends people’s life and living from harms the rages from the natures.

Now these irreplaceable rain forests face a crisis. The area has been reducing rapidly by unplanned cutting. Southeast Asia is not an exception. Of all others, Indonesia is seriousness. The lost square measure is largest by far of any other countries in Southeast Asia.

We can point out the causes. The background is promoting unplanned large-scale agriculture, expansion of slash-and-burn agriculture, large-scale plantation aimed at thoughtless money income. Besides, it laps trailing of government’s measures for conservation of rain forests; it is not easy way to solve this problem.

But it is starting to improvement movement. In Indonesia too. They start to planning of artificial plantation and fair-trading of woods. It is producing fruit steadily.

Above all those, remarkable movements are designing with wood- magno, which was started by Mr. Singgih Kartono. His concept is “Less wood more works”. Mr. Kartono produces high-designed, beautiful and simple wooden products from Indonesian wood.

We can see his philosophy and thoughts towards wood from his works strongly. He thinks the wood is the material which has “strength and weakness ”,”Hardness and Softness”. He practices hand-made and simple design for bringing out the wood’s natural beauty. But his exploit is not only this.

He teaches peoples a woodwork technique, and he gives jobs, which is necessary thing for people’s living.  And moreover, he plans to plant woods for producing magno.

“magno” comes English word “magnify”. The beautiful works have power to leading peoples, who watch it, into the detail. In this meaning, Mr. Kartono makes a success. Because he is leading many peoples to notice the new relationship between forest and people.   It is a notable movement - his design for coexistence with the rain forest and peoples living.

2008-04-14


'magno' 

comes from  word ' magnify' on magnifying glass the first product which I create. I have my own interpretation about 'magno'. I mean 'magno' as 'see details' like function of glass magnifying. A small, simple and beautiful form with high quality craftsmanship draw people to give more attention on the details of the  product. I choose 'g' as logo because the its sculptural form, I want to create products which as unique as the 'g'.

I consider wood as a balanced material. In wood I could find strength, but yet weakness, advantage but also limits, and roughness as well as softness. Extremely, compare to synthetic material, I could feel that wood is a material with soul inside. I believe anyone can sense that too. The balance in its character teach us the essential and universal values of life.

I prefer simplicity in design, there are so much things behind simplicity. For me, wood is already an aesthetic object. What I’d done was just reducing aspects that I thought might do the damage, annoying, and spoiling the character and aesthetic value of wood. Beside the aesthetic reason, the character of the craftsmen/women also influence me. I train people around me that have no handicraft background, most of them came from agricultural background. The products with simple form suitable for them, because the need of time to mastering it is shorter compare to carving technique. Now, there are big amount of the agricultural people need more works because the shortage of the agricultural area. Handicrafts is one of the solution. 

Designing small dimension but functional things from wood had been my enjoyable activities. Aside from such subjective reason, I do logically considering the ratio of utilizing this marvelous material and the amount of its positive opportunities. Small dimension of wooden product with handicraft process required only a small ammount of wood, but yet could create wider working opportunities. A well aged log of wood can give a worker the chance to work for more than a year. In my thought, a designer must become contextual, and that was why I choose to live and work in a village to give my contribution for the local environment.

I often see around my residence, many exotic woods exploited for the making of mass products with low benefit for the people who live around the materials resources. I concerned about the gross usage of wood because the forest management in Indonesia now is a long way from ideal condition. The plantation and its consumption is not balance, this will destroy the forest and endanger the environment. I think, what I should do base on my profession and my limitation as owner of small company is to maximize the ratio of materials usage and the employment create for the people around. I know save the woods is just delay the destruction of the forest, to make a sustainable forest I should plant the tree. In the next few years I will give a free seed of the tree we used to the people around us to plant on their own land for every each product we sell.

2008-01-24

Total 9 Articles
ARTICLE
Mira Soekiman: Puas belanja di Idegift.com [2008-06-30]

Mira Soekiman

Mira Soekiman (product/interior designer) - Pembeli Radio Magno WR01-2B, Reg No 1A2003600508

 

Hadiah [2008-06-18]

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Hadiah atau hibah atau kado adalah pemberian uang, barang, jasa dll yang dilakukan tanpa ada kompensasi balik seperti yang terjadi dalam perdagangan, walaupun dimungkinkan pemberi hadiah mengharapkan adanya imbal balik, ataupun dalam bentuk nama baik (prestise) atau kekuasaan. Dalam hubungan manusia, tindakan pertukaran hadiah berperan dalam meningkatkan kedekatan sosial.
Radio Kayu dari Kandangan [2008-06-18]

Berawal dari sebuah kegagalan, produknya kini menembus pasar luar negeri. Semua materi dari tanaman di kampung halaman. SUARA bening, tampilan yahud, menghasilkan duit pula. Begitulah radio kayu buatan Singgih Kartono, 40 tahun. Merknya Magno. Radio ini tak beda dengan radio lain, kecuali bahwa kotaknya terbuat dari kayu pinus dan sonokeling yang halus dan rapi—cantik luar biasa.

Mengapa harus Hadiah (Gift)? [2008-06-17]

Kenangan indah akan banyak berarti bagi kehidupan seseorang. Kenangan indah akan memberinya kekuatan di masa-masa sulit. Kenangan indah akan memberi energi di saat kita kekurangan tenaga untuk bertarung. Kenangan indah akan membuat hubungan sesama manusia menjadi berarti.

Gift [2008-06-16]

Gift

(From Wikipedia, the free encyclopedia)

Love gift
Man presents a cut of meat to a youth with a hoop. Athenian red-figure vase, ca. 460 BCE
A gift or present is the transfer of something, without the need for compensation that is involved in trade. A gift is a voluntary act which does not require anything in return. Even though it involves possibly a social expectation of reciprocity, or a return in the form of prestige or power, a gift is meant to be free.In many human societies, the act of mutually exchanging money, goods, etc. may contribute to social cohesion. Economists have elaborated the economics of gift-giving into the notion of a gift economy.By extension the term gift can refer to anything that makes the other happier or less sad, especially as a favour, including forgiveness and kindness.
[View All]
LINKS
Jababeka Business
Superhostindo
RANDOM GALLERY
Highslide JS
Small Functional Compass CS-01


SMALL FUNCTIONAL COMPASS CS-01




HOME | ABOUT US | SERVICES | GALLERY | ARTICLE | HOW TO BUY | COORPORATE GIFT ADVISOR | CONTACT US

Copyright © 2007 All Rights Reserved IDEGIFT.COM ™ Designed by Internet Media Solutions ™